Mengenang Pertemuan dengan Sultan HB X dan Jasa Sultan HB IX

Mengenang Pertemuan dengan Sultam HB X dan Jasa Sultan HB IX
Baru saja kita membaca,  Kemenkopolhukam beraudiensi dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X terkait penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu di Kepatihan, Yogyakarta, Jumat, 17 November 2023 . Foto: ANTARA/HO-Pemda DIY
Yogyakarta.

Tim Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI itu mulai mengidentifikasi peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk dituntaskan melalui jalur nonyudisial.

"Setelah identifikasi, tentu kami akan melakukan pemetaan apa yang bisa kami lakukan, tetapi bentuknya apa belum bisa kami sampaikan saat ini," kata Deputi Bidang Koordinasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Kemenkopolhukam RI Sugeng Purnomo dikutip dari laman resmi Pemprov DIY di Yogyakarta.





"Kami sudah bergerak untuk wilayah Aceh dan Lampung dan selanjutnya juga kami mohon masukan di wilayah Yogyakarta dari 12 pelanggaran HAM berat, apa saja yang terjadi," kata dia.

Semua itu berlangsung ketika Sultan sebagai Gubernir Daerah Istimewa Yokyakarta.

Kesultanan Yogyakarta dan Peranan HB IX

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Mesir pada 22 Maret 1946 termasuk negara yang pertama mengakui kemerdekaan RI.

Tapi pada masa kolonial Belanda, sebenarnya ada wilayah yang dinyatakan tidak diganggu gugat Belanda atau “dianggap merdeka” yakni Keraton Yogyakarta dan Istana Pura Paku Alaman.

Keraton Yogyakarta yang saat itu dipimpin Sultan Hamengku Buwono IX termasuk keraton yang pertama kali mengakui kemerdekaan RI.

Pengakuan Sultan HB IX atas kemerdekaan RI dilakukan sehari setelah proklamasi kemerdekaan dengan mengirim telegram kepada kedua ploklamator, Bung Karno dan Bung Hatta.

Selain mengirim telegram yang berisi ucapan selamat dan dukungan terhadap Kemerdekaan RI, Sultan HB IX juga mengucapkan selamat kepada dr KRT Radjiman Wediodiningrat , ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX adalah Sultan Yogyakarta kesembilan dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama. Ia merupakan Wakil Presiden Indonesia kedua yang menjabat pada tahun 1973–1978.

"Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogya telah memberikan bantuan moril paling besar terhadap pejuang-pejuang kemerdekaan. Tanpa pikir panjang lagi Sri Sultan mengirim kawat ucapan selamat kepada Soekarno-Hatta, Presiden dan Wakil  Presiden RI  yang baru lahir," tulis  O.G.Roeder dalam bukunya: " Soeharto dari Prajurit sampai Presiden."

Pengalaman Bertemu Sultan HB X


Ketika Kesultanan Yogyakarta berdiri  tahun 1755, Islam sudah menjadi agama resmi kerajaan, bahkan ketika  ditandatanganinya Perjanjian Giyanti  pada tanggal 13 Februari 1755, Kesultanan Yogya merupakan pecahan  Kerajaan Mataram Islam.

Di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, agama Islam telah tersebar luas sejak Abad XV dan XVI dengan berdirinya Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah dan sekaligusb menjadi  pusat penyebaran Islam.

Ketika kami, saya, Freddy Ndolu, memasuki Kraton Yogyakarta, nuansa Islam itu terasa. Kami  memasuki Kraton yang sederhana. Berjalan dari ujung ke ujung, kita banyak merenung, mencoba memahami hal-hal yang tidak pernah ditulis. Memang Kraton, Kerajaan dalam pemahaman orang kebanyakan  adalah representasi dari sistem feodalistik peninggalan masa penjajahan.Tetapi sesungguhnya tata nilai yang dikembangkan, setidaknya mulai dari era Sri Sultan HB IX adalah negasinya.

Tulisan saya ini pernah dimuat Kompasian dengan judul: "Resmilah Siapa Pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono X."

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014