Menulislah !!!

Menulislah !!!
Hari Selasa, 5 Desember 2023, sekitar pukul 11.00 WIB, saya menerima sebuah buku dari Arie Komalasari. Buku itu setebal 200 halaman, Yogyakarta: Selfietera Indonesia, 2023.

Di halaman depan buku tersebut, Arie Komalasari membuat catatan: 

Kepada Bp.Dasman
Semoga buku ini dapat membantu menemani pagi anda, Jika tidak, boleh juga untuk ganjal meja, Pak.

Saya tersenyum, ganjal meja? Arie Komalasari bercanda. Ya, seorang penulis juga sering megeluarkan ucapan bernada humor. Seriusnya, kalau sedang menulis.

Nama lengkapnya Arie Novianti Komalasari. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang berdomisili di Surabaya.
Saya jadi ingat tulisan saya di Kompasiana, tanggal 21 Juli 2013,  berjudul: "Mengarang itu Gampang (Karya Arswendo Atmowiloto). Apakah Demikian?."
    
Saya memulai anliea pertama, Memulai dengan kesalahan akan lebih baik dari pada salah karena tak pernah memulai, atau ungkapan kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kedua ungkapan di atas sejalan dengan prinsip bahwa setiap orang bisa menulis dan mengarang asalkan mau berusaha sembari mencari referensi dan bacaan yang bermutu untuk menambah khasanah pengetahuan dalam bidang menulis.

Banyak orang yang awalnya gagap menulis, entah karena faktor kebetulan pelakunya kurang memahami teknik menulis atau karena latar belakang pendidikannya yang tidak sejalan dengan konsep yang akan ditulisnya. Sehingga ada rasa ragu antara memulai atau berhenti di pintu sebelum pernah berusaha melihat di dalamnya.

Kesalahan menulis “seperti yang sering saya alami” atau kekeliruan dalam mengetik karena kurang hati-hati dalam menekan keyboard atau kurang mau menelaah dan mengoreksi kembali hasil tulisan kita sering kali menjadi cambuk yang membuat orang yang membaca tulisan tersebut memberikan stempel “tidak teliti" dalam membuat tulisan.

 Pada akhirnya tidak jarang penulis pemula jatuh tersungkur, down, bahkan patah semangat dan tidak mau menulis lagi lantaran rasa khawatir mengalami kesalahan yang sama serta banyak kritikan dan mungkin juga hinaan, cercaan, sindiran yang akan mungkin diterima.

Mengarang seperti halnya yang tertulis dalam buku “Mengarang Itu Gampang” Karya Arswendo Atmowiloto tidak lah sulit asalkan mau belajar dan melengkapi informasi yang penting, entah dari buku-buku maupun media sosial lainnya yang tentu saja akan melengkapi berbendaharaan isi tulisan yang akan kita sajikan.

Akhirnya, sedikit mengutip kalimat di halaman belakang dari buku tersebut “mengarang bisa dilakukan anak-anak, remaja, orang tua bahkan pensiunan. Seperti naik sepeda atau berenang, sekali menguasai bisa seterusnya. Tak akan lupa, atau menjadi tidak bisa. Yang diperlukan hanyalah mengenal unsur-unsur dalam mengarang: ide atau ilham, cara menyusun, menggambarkan tokoh. Selebihnya latihan. Rasanya asalkan bukan buta huruf total, semua orang bisa mengarang.” (Arswendo Atmowiloto; Mengarang Itu Gampang, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta)

Oleh karena itu, baik saya sendiri maupun semua yang ingin menulis tidak salahnya menuangkan gagasan, ide dan pengetahuan yang kita punya. Kesalahan dan kekeliruan yang berujung kritikan, cercaan dan hinaan akan berbanding lurus dengan kemampuan kita dalam menulis asalkan mau mendengarkan dan mengkaji apa yang menjadi kesalahan kita.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan almarhum Pramoedya Ananta Toer semasa hidup. Pramoedya  secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Ini ucapannya yang bermanfaat:

"Menulislah, apa pun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna.” (Rumah Kaca)

“Kau, nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak.  Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu tak kan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari…"

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

“Menulis adalah sebuah keberanian…”

“Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.”

“Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian” (Rumah Kaca)

“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya” (Jejak Langkah)

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014