Roeslan Abdulgani
Hari ini, tanggal 24 November 2025 adalah hari lahir Prof. Dr. (H.C.) H. Roeslan Abdulgani. Roeslan Abdulgani lahir 24 November 1914. Ia adalah negarawan dan politikus Indonesia yang merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia pada tahun 1956-1957. Akrab dipanggil Cak Roes. Dia juga pernah menjadi Rektor IKIP Bandung yang pertama periode 1964-1966, dan tercatat sebagai Pimpinan ke 3 Kampus Bumi Siliwangi sejak bernama PTPG Bandung.
Cak Roes tutup usia pada 29 Juni 2005, Rabu, pukul 10.20 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Almarhum dirawat di rumah sakit sejak 17 Juni 2005 dan jenazah dibawa ke kediaman Jalan Diponegoro sebelum dimakamkan pada Kamis, 30 Juni 2005 di TMP Kalibata.
"Saat terakhir beliau didampingi keluarga termasuk tim dokter kepresidenan yang selama ini merawat," kata anak almarhum, Dr. H. Hafild B. Abdulgani. Selama dalam perawatan di RSPAD, ia dirawat oleh 18 dokter dari tim kepresidenan. Pemerintah juga menanggung semua biaya perawatannya.
Selama dalam perawatan, sejumlah tokoh telah menjenguknya, temasuk wapres Yusuf Kalla. Tokoh nasionalis yang juga jenderal berbintang empat ini lahir di Surabaya, 24 November 1914. Di waktu pensiunnya ia tetap aktif sebagai guru tamu besar dan konsultan di berbagai tempat.
Pengabdian masyarakat merupakan sebuah langkah yang terus berkesinambungan, baik secara horizontal maupun vertikal. Kondisi masyarakat dewasa ini sungguh menjadi pemikiran yang serius. Dalam usia senjanya Cak Roes, panggilan populernya, masih aktif menulis artikel tentang pemikirannya sebagai anggota Dewan Tanda Kehormatan Republik Indonesia. Dia sudah seperti sastrawan besar Sophocles yang pada umur di atas 80 tahun justru menghasilkan karya besar.
Tidak dipungkiri, beberapa karya tentang pemikiran Cak Roes mengundang decak kagum sejumlah kalangan. Karya-karyanya antara lain The Bandung Connection (1981) dan Nationalism, Revolution and Guided Democracy in Indonesia (1973). Semangat muda Cak Roes membuat sosoknya menjadi lebih spesial di mata keluarga.
Menurut Putri bungsu Cak Roes, Hafilia, sang ayah kerap kali mengabaikan larangan putrinya untuk naik turun ke perpustakaan pribadi di lantai dua rumahnya. Kendati semangat terus muda, namun tak dipungkiri bila fisik Cak Roes tidak sebaik dulu. Misalnya saja, dia kerap kesulitan membaca, misalnya koran yang hurufnya berukuran kecil. Bila sudah begitu, anak-anak Cak Roes-lah yang kerap membantu sang ayah.
Mereka terkadang membawakan kaca pembesar atau meng-copy tulisan dengan mesin fotokopi dengan cetakan diperbesar. Meski telah ditinggalkan Sihwati Nawangwulan, istri tercinta yang wafat 3 tahun silam, Cak Roes tidak kesepian. Ia memiliki lima putra-putri, cucu, dan enam cicit, yang setia menengoknya.
Ketika Cak Roes meninggal dunia, sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden pun mengakuinya. Tokoh ini menjadi saksi dan pelaku pada lembar-lembar sejarah Indonesia. Pada zaman pendudukan Belanda, almarhum aktif sebagai ketua organisasi "Indonesia Muda" yang membuatnya sering ditangkap aparat Belanda.
Dia juga ikut berjuang pada perang kemerdekaan 1945 dan kemudian mengisi perjalanan Indonesia modern sebagai menteri luar negeri dan duta besar di PBB. Setelah pensiun pada 1972, tidak membuat Cak Roes menghentikan aktivitasnya.
Sederet pekerjaan dia lakukan dengan baik antara lain wakil Indonesia dalam Seminar Asia Afrika di Kairo, Mesir, pada 1985, memberikan kuliah di Universitas Monash Australia, melakukan riset arsip dan dokumentasi di Belanda atas undangan Pangeran Bernhard. Lembaga PBB, Unesco yang bermarkas di Paris juga pernah menjadikan Cak Roes sebagai konsultan di bidang komunikasi massa dan kebudayaan.
Sejumlah tokoh dan negarawan masa kini dan tempo dulu termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum di kediamannya Jl Diponegoro 11, Jakarta Pusat. Tokoh lainnya yang ikut melayat di antaranya adalah mantan Presiden Soeharto, mantan Wapres Tri Sutrisno, mantan Menteri Penerangan Harmoko, mantan Mensesneg Moerdiono, Menteri Agama Maftuh Basyuni, mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno, dan Sukmawati Soekarnoputri.
Cak Roes, tokoh yang selalu memperhatikan perkembangan politik tanah air ini mengharapkan adanya rekonsiliasi terhadap masalah Soeharto. Dia mengajak semua pihak untuk tidak melihat kesalahan masa lalu dari kacamata sekarang. Selain itu, Cak Roes mengajak untuk revolusi terhadap sistem kenegaraan yang saat ini sudah bobrok. Menurutnya, lebih baik dibuat sistem yang sama sekali baru daripada membongkar sistem yang terus-menerus bobrok dan ongkosnya lebih mahal.