Hari ini 28 September 2024, meski Sudah Meninggal Dunia, tetap Kita Kenang sebagai Hari Lahir Kapolri Kedelapan Awaloedin Djamin

Hari ini 28 September 2024, meski Sudah Meninggal Dunia, tetap Kita Kenang sebagai Hari Lahir Kapolri Kedelapan Awaloedin Djamin

Bila kita berkunjung ke Museum Polri sekarang ini, yang letaknya berdekatan dengan Mabes Polri, maka nama Kapolri Kedelapan, Awaloedin Djamin, termasuk di antara nama-nama Kapolri lainnya. Wajahnya yang terpampang di foto ini adalah wajahnya pada Rabu, 12 Desember 2012 di Museum Kebangkitan Nasional ketika menghadiri Diskusi Buku “Mission Accomplished,” buku Rais Abin, Panglima pasukan PBB di Timur Tengah 1976-1979 yang ditulis oleh Dasman Djamaluddin.
Kalimat harapan yang sering diucapkannya untuk menyemangati generasi muda adalah "... Bila sekarang ada satu Bung Hatta dan satu Sutan Syahrir, di masa yang akan datang akan ada beratus-ratus Hatta dan beribu-ribu Syahrir."

Sebagaimana tertera di dalam museum tersebut, Awaloedin Djamin menghabiskan masa kecil dan sekolah dasar hingga menengah atasnya di kota Padang. Awaloedin adalah sosok yang cukup punya banyak kelebihan. Selain sebagai polisi yang piawai, ia juga adalah politisi yang handal dan akademisi yang briliant. Ia lahir dari keluarga bangsawan di Padang pada 26 September 1927.

Sehabis meyelesaikan pendidikan setingkat SMA di Padang, ia melanjutkan studinya di Universitas Indonesia, Jakarta (1949-1950) .Putra pertama Marah Djamin ini lantas masuk PTIK yang ditamatkannya pada tahun 1955. Fokus pemikiran dan kerjanya saat menjabat sebagai Kapolri adalah pembenahan menyeluruh (“Overall reform”) untuk meningkatkan citra dan wibawa Polri di mata masyarakat. Ia melakukanya dengan kebijakan terpadu yang dikenal dengan “Program Pembenahan dan Peningkatan Citra Diri”.

Pada masa Awaloedin Djamin menjabat sebagai Kapolri, ia telah meletakkan dasar bagi organisasi Kepolisian modern. Tiga kebijaksanaannya semasa Kapolri yang patut dicatat dalam sejarah adalah pembenahan organisasi, pendidikan kepolisian dan kerja sama luar negeri. Pada masa jabatannya ini, ia dan jawatan polisi lainnya terlibat aktif dan menyumbangkan banyak hal untuk lahirnya KUHAP, UU No. 8, Tahun 1981 baru yang disahkan oleh DPR RI.

Awaloedin adalah orang yang “low profile” dan juga objektif. Hal ini terlihat dengan pengakuannya sendiri ketika di masa akhir jabatannya bahwa masih banyak kelemahan dalam tubuh Polri Meskipun sesungguhnya program “overall reform”nya sungguh sangat berguna dan dampak dari perubahan itu telah dirasakan seluruh jajaran polisi di seluruh wilayah negara RI.

Awaloedin Djamin telah menerima banyak penghargaan dan tanda jasa dari dalam mau pun luar negeri. Ia adalah juga seorang Polisi yang mencintai buku. Ini terlihat dalam masa jabatannya sebagai Kapolri juga ketika ia menekankan pentingnya seluruh anggota Polri memahami sejarah Polri. Ia memprakarsai penulisan buku biografi pemimpin Polisi RI yang pertama R.S. Soekanto dan memperjuangkan pengukuhan beliau sebagai Bapak Polisi Indonesia.

Kerja Awaloedin Djamin dalam bidang buku antara lain merevisi Sejarah Kepolisian di Indonesia yang terbit tahun 1997, menjadi buku Sejarah Perkembangan Kepolisian di Indonesia dari Zaman Kuno sampai Sekarang dan terbit tahun 2006. Masa pensiunnya sebagai Polisi tidak berlangsung lama. Ia pensiun dalam umur 55 tahun pada 11 Desember 1982. Namun ia langsung diserahkan tugas sebagai Dewan Pertimbangan Agung (DPA) serta Sekretaris Dewan Pembina Golkar bersama dengan Cosmas Batubara, Harmoko, Abdul Gafur, dan Sapardjo.

Ia juga tetap mengabdi dalam bidang akademis sebagai Dekan PTIK dan Guru Besar Ilmu Administrasi Negara di UI. Ia juga diminta memimpin Universitas Pancasila yang didirikan tahun 1984. Ia aktif di berbagai organisasi seperi Kadin, SPSI, YTKI, Permanin, Alumni Jerman, Gebu Minang, Persatuan Tarbiah Islamiah, Asosiasi Kriminologi Indonesia, dan Perhimpunan Pustakawan Indonesia.

Di tingkat internasional ia diangkat sebagai Executive Committee Member dari “International Association of university Presidents” dan anggota Eropa. Dengan beberapa teman, ia berinisiatif mendirikan “The Indonesian Executive Servise Corps.” Setelah pensiun, ia terus mengabdi seperti kata pepatah: “the Old Soldier Never Die”.

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014