Buku Persahabatan Bung Karno dan John F.Kennedy Kembali Terbit

Buku Persahabatan Bung Karno dan John F.Kennedy Kembali Terbit

Buku dalam bahasa Indonesia yang  menganalisa hubungan diplomatik antara Presiden Sukarno (ejaan nama Bung Besar ini sering ditulis "Sukarno," "Soekarno". Saya menulisnya Soekarno) dan Presiden John F. Kennedy ini baru saja saya miliki. Menarik. Buku ini menyajikan hubungan erat antara Sukarno dan Kennedy.

Buku ini ditulis Sigit Aris Prasetyo setebal 484 halaman. Buku ini  yang menyebabkan kunjungan antar pemimpin saat memuncaknya Perang Dingin pada tahun 1960an. Hubungan kedua tokoh menjadi dasar meningkatnya dukungan pemerintah AS di era transisi setelah era kolonial dan munculnya Indonesia sebagai kekuatan regional di era Suharto. 

Beberapa komentar tentang buku ini:

" Penulis buku ini adalah lulusan Program Pasca Sarjana Kajian Amerika Universitas Gadjah Mada yang disponsori oleh pemerintah AS, yang juga sebagai seorang diplomat yang mengagumkan. Penelitian impresif yang dilakukan penulis dapat dilihat dari berbagai sumber bibliografi terbaru dan multi-lingual, serta analisis sejarah yang dihasilkan dari berbagai pengalaman-pengalaman penulis dalam hubungan diplomatik internasional.”
 —Dr. Kenneth R. Hall, Profesor Sejarah Ball State University, Amerika Serikat, pernah menjadi Fulbright Profesor di Kajian Amerika, Universitas Gadjah Mada, saat ini sebagai Fulbright Senior Scholar di Pune University, India.
“Membaca buku karya Saudara Sigit Aris Prasetyo ini semakin menyakinkan kita, bahwa Bung Karno adalah sosok bapak bangsa, penyambung lidah rakyat Indonesia, yang juga dikarenakan oleh Tuhan Yang Maha Esa ditakdirkan sebagai suami saya, adalah orang besar, nasionalis, humanis, dan seorang pemimpin hebat kelas dunia. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari buku ini. Tidak hanya tentang persahabatan erat dan kedekatan personal antara Sukarno dan John F. Kennedy, namun juga harapan dan impian kedua pemimpin untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih aman, adil, demokratis, dan tentunya memanusiakan manusia. Visi kedua pemimpin ini selayaknya menjadi sebuah ‘legacy’ bagi seluruh umat manusia yang perlu kita wujudkan.“
—Yurike Sanger, Istri Sukarno
“Buku ini berisi kisah persahabatan dua tokoh besar dunia, yang ditulis secara populer sehingga mudah dicerna. Banyak hal krusial dan kritis dalam hubungan antarbangsa, Indonesia dan Amerika Serikat. Namun tidak kalah asyiknya terdapat pula dari segi yang humanis, seperti ‘selera’ yang sama terhadap wanita. Sukarno, Presiden Republik Indonesia tidak merasa ‘minderwadigheid’, sebagai kepala dari ‘negara yang baru saja merdeka’ berhadapan dengan John F. Kennedy, presiden dari negara adidaya. Bahkan Sukarno ‘Presiden Diplomat’ yang ulung ini dalam beberapa segi mampu memanfaatkan situasi tertentu. Contohnya, sewaktu Sukarno berhasil mendesak Amerika untuk berpihak pada Indonesia versus Belanda dalam mengembalikan Irian Barat ke ‘Pangkuan Ibu Pertiwi’. Hal itu tidak terlepas dari isu ‘pembebasan’ Allen Pope, seorang warga Amerika terpidana mati oleh Sukarno,  dalam kasus penyerangan dari udara ke Istana Merdeka. Ditulis bukan oleh sejarawan formal, justru pantas diacungi jempol sebagai buku populer sejarah, khususnya sejarah diplomasi.”
—Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M. Hum., Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia (UI)
“Saudara Sigit Aris Prasetyo adalah diplomat muda yang berbakat dan sekaligus penulis yang produktif. Di buku ini, studi hubungan dan politik internasional yang serba kompleks dan praktik diplomasi yang serba teknis berhasil diramu dalam bentuk bacaan yang menarik. Melalui kisah tentang Sukarno dan Kennedy ini, politik global menjadi lebih mudah dipahami oleh para pembaca dengan latar belakang profesi dan pendidikan yang berbeda. Sigit adalah bagian dari generasi pasca Perang Dingin, suatu era di mana kisah persahabatan Sukarno dan Kennedy terjadi. Tapi, Sigit berhasil menyajikan kepada para pembaca, bagaimana Indonesia di zaman Sukarno dan Amerika Serikat di zaman Kennedy, terutama pemimpin kedua bangsa telah berhubungan erat satu sama lain dan berkontribusi untuk perdamaian dan ketertiban dunia. Buku ini seperti mesin waktu yang memberi peluang bagi generasi millenial untuk belajar dan memahami berbagai pemikiran dan keteladanan dua tokoh besar tersebut.”
 —Dr. Siswo Pramono, S.H., LL.M., Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri RI.

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014