MASA SOEHARTO, KENAPA MILITER SANGAT BERPERAN?
MASA SOEHARTO, KENAPA MILITER SANGAT BERPERAN?
Jika kita berbicara tentang Orde Baru, kita tidak bisa melepaskan diri dari membicarakan tentang tragedi Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia (P.K.I), yang didalangi oleh partai yang sudah terlarang itu.
Peristiwa kelam itu, sudah tentu perlu diketahui oleh generasi penerus bangsa ini agar jangan sampai terulang kembali.
Bagaimanapun, keterlibatan militer tidak dapat dielakan dengan lahirnya Orde Baru.
Dari pucuk pimpinan hingga ke akar rumput, susunan pemerintahan di Indonesia diduduki para militer untuk membasmi P.K.I hingga ke akar-akarnya.
Meski P.K.I sudah resmi dibubarkan pemerintahan Presiden Soeharto, bukan berarti pengikut dan simpatisannya hilang begitu saja.
Memang, di masa sistem politik Demokrasi Terpimpin, golongan militer tidak punya kesempatan lebih besar dalam kegiatan politik.
Peranan militer semakin jelas terlihat ketika sedang membahas konsep Orde Baru di dalam Seminar Angkatan Darat II 1966 yang berlangsung di Graha Wiyata Yudha, Seskoad, Bandung, 25-31 Agustus 1966.
Walau terdapat kalangan sipil, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Tujuan seminar pada waktu itu, untuk mengoreksi total berbagai ketimpangan di masa Orde Lama. Jadi koreksi total adalah semangat Orde Baru.
Pada Sidang Istimewa yang berlangsung di Jakarta, pada tanggal 7-12 Maret 1967 melalui Kete-tapan No. XXXIII/MPRS/67, MPRS menetapkan mencabut kekuasaan pemerintah negara dari Presiden Soekarno dan dengan ketetapan yang sama, MPRS mengangkat Pengemban Ketetapan MPRS No.IX /MPRS/66, Jenderal Soeharto sebaga pejabat Presiden.
Dalam hal ini, Robert Edward Elson di dalam bukunya: "Suharto Sebuah Biografi Politik," menjelaskan bahwa Soeharto mengatakan:
"Untuk sementara waktu, kami akan memberlakukan beliau (Soekarno) sebagai presiden yang tidak berkuasa lagi, sebagai presiden yang tidak mempunyai kewenangan apa pun di bidang politik, kenegaraan dan pemerintahan."
Walaupun telah dilantik sebagai Pejabat Presiden, dalam susunan Kabinet Ampera yang Di-sempurnakan, Soeharto hanya mencantumkan namanya sebagai Pimpinan Kabinet, bukan sebagai Pejabat Presiden.
Nama Soekarno sama sekali tidak tercantum dalam susunan kabinet terakhir ini.
Pertanyaan selanjutnya, siapa yang menandatangani Surat Keputusan Pembentukan Kabinet Ampera yang Disempurnakan, karena pembentukan kabinet tersebut disebutkan berdasarkan Keputusan Presiden No.171 tahun 1967.
Apakah di dalam berbagai peraturan dibolehkan seorang Pejabat Presiden mengatasnamakan Presiden untuk menandatangani sebuah Surat Keputusan.
Atau, sejauh manakah sahnya sebuah Surat Keputusan, apabila ditandatangani oleh Presiden yang kekuasaannya sudah dicopot?
ENAM JENDERAL YANG SAYA KENAL:
1. LETJEN TNI C.I SANTOSA PANGDAM XVII/CENDERAWASIH (1977-1978)
Nama lengkapnya Chalimi Imam Santosa atau akrab dipanggil C.I.Santoso. Ketika saya kuliah di FIHES (Fakultas Ilmu Hukum, Ekonomi dan Sosial/FIHES), Jurusan Hukum (sekarang Fakultas Hukum) Universitas Negeri Cenderawasih (UNCEN) di Abepura, Papua dari tahun 1975-1980.
Tentang Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) atau dulu lebih dikenal dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM)? Ya, sangat akrab di telinga kami para mahasiswa/i UNCEN. Bahkan sering bendera OPM itu selalu akan dikibarkan, tetapi selalu pula gagal.
Saya waktu itu sering dimintai informasi oleh Pangdam C.I.Santosa tentang OPM, karena saya tidak hanya sebagai mahasiswa biasa saja, tetapi di UNCEN menjadi Sekretaris I HMI Cabang Jayapura 1977-1978, Ketua Umum LHMI HMI Cabang Jayapura 1978-1979 dan 1979-1980. (Lihat foto Flickr, paling bawah).
https://koran-jakarta.com/sempat-jadi-perwira-cemerlang-di-rpkad-karir-anak-buah-sarwo-edhie-ini-mentok-sampai-brigjen
https://www.flickr.com/photos/dasman/47268282142.
2. LETJEN TNI ACHMAD TIRTOSUDIRO.
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Achmad Tirtosudiro (9 April 1922 – 9 Maret 2011) adalah seorang tokoh Indonesia dalam berbagai bidang dan jabatan, mulai dari karyawan kereta api sampai menjadi jenderal, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Direktur Jenderal dan terakhir sebagai Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) periode 1999-2003. Beliau adalah rektor ke 7 Universitas Islam Bandung (UNISBA) Periode Tahun 1986-1990 dan periode 1990-1996. Mantan Pj. Ketua Umum ICMI periode 1997-2000, ini juga berperan dalam mengantarkan Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi Presiden Republik Indonesia.
Sudah tentu kita akan sulit menemui figur seperti Letnan Jenderal Achmad Tirtosudiro yang memegang teguh disiplin dan selalu tepat waktu.
Sebagai salah seorang yang ikut mewawancarai beliau ketika menulis buku: " Kenangan 70 Tahun Achmad Tirtosudiro, Profil Prajurit Pengabdi (Jakarta: PT. Intermasa, 1992), saya menyaksikan sendiri kedisipinan beliau soal waktu.
Suatu waktu, kami bertiga, penulis buku, yaitu saya, Ahmad Zacky Siradj dan Toto Izul Fatah, berangkat pagi sekali dari Jakarta menuju kediaman Pak Achmad Tirtosudiro yang waktu itu di Plered, Purwakarta. Kami tiba terlambat beberapa menit dan tidak menemui lagi lagi Pak Achmad Tirtosudiro. Ajudannya keluar menemui kami. Pak Achmad sudah masuk ke kamarnya, ujar sang ajudan.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan kami dari Jakarta ke Purwakarta hanya sedikit menemui rintangan, karena memakai mobil pribadi. Tetapi itulah kedisiplinan seorang Letnan Jenderal Achmad Tirtosudiro yang patut dicontoh oleh generasi muda. Pada akhirnya dengan menyusun jadual pertemuan kembali kami pun mewawancarai tokoh militer yang selalu mengedepankan kedisplinannya itu.
Hal ini sudah tentu membekas kepada diri saya. Setiap berjanji dengan seseorang, maka saya sudah hadir 15 menit sebelum waktu yang dijanjikandi . Itul berlangsung hingga sekarang dan nantinya. Permasalahan apakah yang berjanji membatalkan, buat saya tidak menjadi masalah. Yang penting dari pribadi sendiri sudah melatih diri menepati waktu.
Letnan Jenderal Achmad Tirtosudiro adalah juga orang yang selalu membantu siapa saja. Di dalam buku biografi yang saya tulis: " Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar " (Jakarta: Grasindo, 1998 dan 2008/ bersyukur dua kali dicetak karena banyak yang ingin membacanya, ada pengalaman menarik Letnan Jenderal Achmad Tirtosudiro dengan Basoeki Rachmat di Surabaya.
Di halaman 52 buku tersebut diceritakan kedekatan dan persahabatan dua figur TNI tersebut, yaitu ketika sebagai Pangdam Brawijaya, Pak Basoeki Rachmat ingin ke Jakarta. Situasi tanggal 30 September 1965 sangat genting dan rawan. Jika naik kendaraan, sudah tentu menjadi incaran pembunuhan PKI.
Akhirnya kebetulan Pak Achmad Tirtosudiro berada yang pada waktu itu menjabat Direktur Intendans Angkatan Darat (CIAD) sedang mengadakan inspeksi di Jawa Timur dan pada hari yang sama ingin kembali ke Jakarta. Pak Achmad Tirtosudiro pada waktu itu menggunakan sebuah pesawat jenis Dakota dari Angkatan Darat Republik Indonesia. Terjadilah dialog sebagai berikut:
" Saya ikut kamu, ya ! Kamu toh bawa pesawat sendiri," ujar Pak Basoeki Rachmat kepada Pak Achmad Tirtosudiro. " O...silahkan. Boleh saja, saya senang dan masih banyak tempat," jawab Pak Achmad Tirtosudiro. Lalu mereka bersama-sama menuju Jakarta.
3. Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat
Tanggal 23 Februari 2021, saya berkomunikasi kepada putra Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat, yaitu Bambang Susanto dan Bambang Wasono mengenai sang ayah yang menerima Bintang Republik Indonesia Adipradana.
Ceritanya memang sudah lama, ketika diberikan kepada ketiga pelaku Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 1966 tersebut. Penghargaan ini dari negara untuk sang jenderal yang patuh.
Waktu itu, Jenderal M. Jusuf masih dalam masa pemuilihan kesehatan dan ia langsung terbang ke Jakarta untuk menerima anugerah itu. Presiden Soeharto yang langsung memberikannya pada tanggal 7 Agustus 1995, kecuali untuk Jenderal TNI Basoeki Rachmat yang sudah tentu diwakili keluaga, karena ia sudah meninggal dunia pada 10 Januari 1969.
Setelah saya menulis buku biografi Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia/Grasindo), kemudian dicetak dua kali, Agustus 1998 dan Juni 2008, hubungan saya dengan keluarga bertambah akrab.
Ketika putera tertua Jenderal Basoeki Rachmat meninggal dunia, yaitu Yogi Basoeki Rachmat, pada tanggal 28 April 2020, saya ikut juga berduka. Tentu tidak hanya saya, jika mendengar berita tersebut.
Saya sangat mengenal keluarga besar Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat. Semua keluarga hadir bersama Ibu Sriwoelan Basoeki Rachmat, para ajudan, di antaranya Kolonel TNI (Purn) Stany Subakir, Saptodarsono, Samsi Kasran, Moch. Zaenal, J. Ukat dan Bam Bahardin untuk memberi informasi dalam rangka penulisan buku.
Di buku tersebut, saya cuplik sebagian pernyataan Haji Bambang Yogianto (anak pertama Pak Basoeki Rachmat) yang baru saja meninggal dunia, tentang ayahnya di halaman 156 dan 157 buku yang saya tulis tersebut :
Kesan saya tentang ayah adalah perhatian besarnya, yaitu lebih diekspresikan dengan perbuatan, buka kata-kata. Salah satu contoh, waktu kami tinggal di Malang, mata saya harus dirawat akibat kejadian di Kediri, mungkin terkena abu Gunung Kelud. Dokter matanya ada di Surabaya, sehingga saya harus ke Surabaya secara rutin dan ayah selalu mengemudikan kendaraan dari Malang ke Surabaya untuk mengantar saya berobat.
Pengalaman lain, yaitu di Surabaya. Waktu ayah menjadi Pangdam VIII Brawijaya, saya ingin sekali memiliki sepeda motor, tetapi tidak berani untuk meminta kepada ayah. Kebetulan supir panglima memiliki skuter yang dibelinya ketika bertugas di Kongo. Pada suatu hari, saya meminjam skuter itu dan pulang ke rumah sekitar pukul 23.00 WIB. Ayah dan ibu masih menunggu di teras rumah.
Begitu pula ketika saya kuliah di jurusan elektro ITB, ayah selalu berusaha melengkapi buku-buku yang saya perlukan dan selalu menasihati agar belajar dengan sungguh-sungguh.
Dari kenangan itu terlihat bahwa almarhum Bambang Yogianto adalah anak yang cerdas. Lebih penting dari itu selalu mengikuti perintah kedua orang tuanya.
4. Laksamana TNI (Purn.) Muhammad Sudomo (20 September 1926 – 18 Aprill 2012).
Ia adalah seorang petinggi militer yang terkenal di masanya karena jabatannya sebagai Wakil Panglima ABRI dan Pangkopkamtib.
Tiba-tiba ketika Soedomo meninggal, Rabu, 18 April 2012, saya teringat kembali kenangan ketika bertemu beliau pertama dan terakhir, di rumahnya, Pondok Indah, Senin 8 Februari 2010. Pertemuan pertama, karena memang pertamakali saya berbicara empat mata atau secara khusus. Kedua, setelah itu tidak lagi bertemu hingga beliau meninggal dunia.
Pak Domo, panggilan akrabnya, tiba-tiba bicara tentang peta perpolitikan menjelang Pak Harto lengser dari jabatan Presiden RI.
Diselingi humur- humor kecil, Pak Domo bercerita mengenai tiga orang yang sangat tidak disukai Pak Harto. Pertama, Harmoko, Kedua, B.J. Habibie dan ketiga, Ginanjar Kartasasmita.
Sebetulnya, saya tidak ingin mengetahuinya, karena fokus utama saya ke rumah Pak Domo, adalah menggali informasi tentang Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Rais Abin (anak buah Soedomo) yang dimuat di halaman 218 dan 219 buku biografi tentang beliau: ” Catatan Rais Abin, Panglima Pasukan Perdamauan PBB di Timur Tengah (1976-1979) (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012) oleh Dasman Djamaluddin.
Tetapi Pak Domo memahami apa yang dicapkannya, menurutnya, agar dalam hidup ini kesetiaan dan pengabdian sangat dibutuhkan.
“Anda termasuk generasi pelanjut,” ujar Pak Domo dan perlu mengetahuinya. Jika kesetiaan sudah tidak ada di naluri seorang pengabdi, jelas Pak Domo, inilah yang dinamakan penghianatan.
Jadi lanjut Pak Domo, jika Pak Harto diundang ke sebuah pertemuan maka akan selalu bertanya, apakah ketiga orang itu hadir juga di pertemuan itu? Jika masih ada salah seorang dalam pertemuan itu, Pak Harto menunda kehadirannya. Barulah setelah ketiga atau salah seorang dari ketiganya pulang, Pak Harto hadir.
Pak Domo adalah orang yang ikut menyetujui agar Pak Harto meletakan jabatan, bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa (1998), melainkan akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya.
5. Letjen TNI (Purn) Rais Abin
Rais Abin adalah mediator di balik perundingan Camp David, juga Ketua Umum Kehormatan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).
Beliau tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta pada Kamis, 25 Maret 2021, malam.
Almarhum Rais Abin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada hari ini, Jumat, 26 Maret 2021, pukul 10.00 WIB.
Almarhum Rais Abin pernah tergabung dalam perang Kemerdekaan tahun 1945-1949 dan juga menjadi Panglima Pasukan Perdamaian PBB United Nations Emergency Forces (UNEF) II Sinai.
Saat menjabat sebagai Panglima UNEF II, Rais Abin menjadi mediator perundingan Camp David yang bertugas menjaga perdamaian antara Mesir dan Israel setelah perang Yom Kippur pada Oktober 1973.
Kembalinya ke Indonesia, Rais Abin menjabat sebagai Asisten Perencanaan Umum Menhankam/Pangab dan ditahun 1981, dirinya ditunjuk sebagai Duta Besar RI di Malaysia. Selang tiga tahun Rais Abin dipercaya menjadi Duta Besar RI di Singapura.
Pada Tahun 1989, pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat menjadi Komisaris Utama Bank Bumi Daya dan juga Ketua Bidang Idpolkam Pimpinan Pusat LVRI.
Pria yang pernah mengikuti Sekolah Staf dan Komando AD di Australia, pada tahun 1991 pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non Blok dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Karena perjuangannya, Rais Abin mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana, Bintang Mahaputera Utama, Bintang Gerilya dan Medali Perdamaian PBB.
6. Letjen TNI (Purn) Safzen Noerdin
Tepat hari peluncuran buku, Graha Marinir, Jakarta, pada Rabu malam, 30 Maret 2016 dipenuhi para petinggi petinggi TNI, khususnya dari Angkatan Laut RI.
Kehadiran mereka sudah tentu berkaitan dengan undangan dari Dubes RI untuk Irak, Letjen TNI Mar (Purn) Safzen Noerdin (2012-2015) yang meluncurkan buku tentang pengalamannya selama bertugas di sana.
Saya hadir di sana karena Pak Safzen tidak pernah melupakan saya dan undangan dikirim melalui HP.
Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Rajawali Consultant, Maret 2016 dan diluncurkan di Graha Marinir Jakarta, pada malam hari itu.
Safzen yang juga mantan Komandan Korps Marinir TNI AL itu menuliskan pengalamannya selama menjadi Duta Besar Indonesia di Irak. Dari laporan terakhir di Irak yang ditayangkan berbentuk buku dan juga dari film singkat di ruangan itu, benar bahwa situasi di Irak ketika itu sangat rawan.
Sangatlah wajar, jika para istri dan anak-anak para staf Kedutaan Besar RI di Irak, termasuk duta besarnya tidak diizinkan bersama mereka di Irak, sebagai antisipasi jika terjadi keadaan darurat, sesegera mungkin bisa hijrah ke negara tetangga tanpa beban psikologis.
Dari laporan tersebut tergambar bahwa hampir setiap hari bom mobil meledak.
Bahkan untuk itu Dubes kita di Irak memiliki dua mobil anti peluru di Kedutaan Besar Indonesia di Irak sebagai antisipasi jika Dubes atau stafnya pergi ke luar dari kedutaan besar yang waktu itu dipagari tembok beton setebal 40-50 cm.
Mengapa saya juga tahu? Ya, saya juga pernah diundang Pak Safzen Noerdin ke Irak pada September 2014. Hubungan erat saya dengan Pak Safzen di mulai ketika beliau belum menjadi duta besar.