Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (PPKB FIB UI) Menyelenggarakan Festival "Marandang"
Adalah Yuni Tabriz yang mengirim foto-foto kami di Festival bersamaan dengan Halalbihalal FIB UI pada hari Kamis, 10 April 2025 di Pelataran Kampus FIB UI, Depok.
Pertama, bersama Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum. yang lahir April 1953 di Banyumas) adala Sejarah Maritim. Ia merupakan Guru Besar di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI). Zuhdi mengajar baik di program sarjana maupun pascasarjana ilmu sejarah. Selain itu, ia juga merupakan Guru Besar Universitas Pertahanan Indonesia. Meski ia
sudah pensiun, saya tidak tahu, apakah pikiran dan tenaganya masih terus dibutuhkan.
Kedua, bersama Prof.Dr. Ida Sundari Husen, dosen sastra Perancis dari Universitas Indonesia.
Kedua guru besar ini sama-sama menghadiri Festival "Marandang." Bukan tidak ada guru besar yang lain, tetapi untuk menyebutkan satu-persatu terlalu banyak. Festival bersamaan dengan Halalbihalal FIB UI pada hari Kamis, 10 April 2025 di Pelataran Kampus FIB UI, Depok.
"Marandang" dalam Bahasa Minang berarti proses memasak rendang, khususnya rendang daging sapi atau kerbau. Tradisi ini sering dilakukan menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Ramadhan. Marandang juga sering dilakukan di acara-acara adat dan untuk menyambut tamu kehormatan.
Marandang bukan hanya sekadar memasak, tetapi juga sebuah tradisi yang memiliki makna dan filosofi tersendiri bagi masyarakat Minangkabau. Tradisi ini melambangkan semangat gotong royong, persatuan, dan kebersamaan dalam keluarga. Rendang yang dihasilkan dari proses marandang juga menjadi simbol kasih sayang dan persaudaraan.
Selain itu, marandang juga memiliki makna budaya yang dalam. Rendang yang dihasilkan dari proses marandang sering dihidangkan dalam acara-acara adat seperti kenduri dan perayaan keagamaan. Filosofi rendang juga merujuk pada musyawarah dan mufakat, yang tercermin dari bahan-bahan utama rendang yang melambangkan pemimpin suku adat, kaum intelektual, alim ulama, dan masyarakat Minang.