Wawancara Saya dengan Radio El-Shinta tentang Konferensi Asia-Afrika di Kompasiana, 19 April 2015 .
Wawancara Saya dengan Radio El-Shinta tentang Konferensi Asia-Afrika di Kompasiana,
19 April 2015 .
Wawancara Saya dengan Radio El-Shinta tentang Konferensi Asia-Afrika di Kompasiana,
19 April 2015 .
Konferensi Asia Afrika di Bandung , 18-25 April 1955 merupakan momen bersejarah bukan hanya Indonesia tetapi juga dunia. Ketika memperingati konferensi itu ke-60, sudah tentu di Bandung, Radio El-Shinta, Minggu, 19 April 2015 pukul 10.00 WIB. mewawancarai saya sebagai Sejarawan. Inilah beberapa pointer hasil wawancara Radio El-Shinta dengan saya tersebut.
Ketika dipertanyakan kepada saya, mengenai pendapat tentang peringatan Konferensi Asia Afrika ke 60 di Bandung, saya menyambutnya dengan baik. Itu adalah momen bersejarah buat bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. Tetapi ketika persoalan itu dihadapkan ke masalah, sejauh mana peranan Indonesia sekarang di dunia internasional, saya menunjuk ke peristiwa pemberangusan ajaran-ajaran Bung Karno dan foto-foto serta diri Bung Karno sendiri pada tahun 1966.
Inilah sebetulnya yang saya sesalkan bahwa sejarah yang dibentuk oleh Soekarno pada tahun 1955 itu, otomatis tidak berkelanjutan ke tahun tahun berikutnya. Tiongkok menurut saya sangat baik memainkan peranannya. Negara tersebut memperhatikan kesinambungan sejarah. Tiongkok dulu berbeda dengan Tiongkok sekarang. Ia tidak merubah tetapi memodernisir.
Apa yang dikatakan Bung Karno sebagai imperialisme baru, saya setuju. Saya mencontohkan apa yang terjadi di Irak, sebuah negara yang ikut mendukung kemerdekaan Indonesia. Kita bisa melihat apa yang terjadi di Irak sekarang seiring keberangkatan saya ke sana September 2014. Saya melihatnya jauh berbeda dengan situasi Irak ketika saya ke sana pada tahun 1992.Inilah yang saya maksud Imperialisme baru.
Indonesia pun demikian juga.Kenyataan yang dihadapi negara-negara Dunia Ketiga berganti dengan imperialisme baru sebagaimana dikatakan dan diingatkan Bung Karno. Jika hanya untuk memperingati, maka KAA masih relevan dan saya setuju. Tetapi ketika kita berbicara apa yang terjadi sekarang dengan negara-negara anggota Konferensi Asia Afrika dan gagasan-gagasannya, kita bisa mengatakan, terjadi sebuah kegagalan. Imperialsme telah berganti baju dengan imperialisme baru.