MENGENAL LEBIH DEKAT SEJARAWAN ASVI WARMAN ADAM (2)


MENGENAL LEBIH DEKAT SEJARAWAN ASVI WARMAN ADAM (2) 

Asvi Warman Adam, di samping sebagai ilmuwan, sudah tentu banyak menulis artikel di berbagai media. Harian "Kompas," edisi 21 Juli 2017 halaman 7 menurunkan tulisan tentang Adam Malik dalam rangka memperingati 100 tahun hari lahirnya. Penulisnya adalah sejarawan Asvi Warman Adam, seorang peneliti Ilmu Sejarah bertitel doktor dari Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis.

Tulisan ini sekaligus untuk memperingati hari lahir Adam Malik ke-100. Adam Malik lahir di Pematang Siantar pada 22 Juli 1917. Jadi pada 22 Juli 2017, genap usia beliau 100 tahun.  Pada tanggal  5 September 1984,  mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-3 , juga  mantan menteri luar negeri itu meninggal dunia. 

Jika kita sering membaca tulisan Asvi Warman Adam sepertinya biasa-biasa saja. Tetapi jangan terkecoh. Biasanya tulisan sejarawan itu terselip data baru dan itulah kesimpulan tulisan sejarawan itu kali ini.

Di alinea ke-7 dari atas, Asvi Warman Adam menulis tentang peristiwa pasca Gerakan 30 September pada 1965. Disebutkan Asvi, Adam Malik menerima bantuan dari agen rahasia Amerika Serikat (AS) senilai 50 juta rupiah atau 10 ribu dolar AS untuk Komite Aksi Pengganyangan Gestapu yang diserahkan melalui sekretaris Adam Malik. Disebutkan juga, Kedubes AS mengumpulkan nama-nama pengurus Partai Komunis Indonesia (PKI), pun diserahkan kepada sekretaris Adam Malik.

Data ini tidak lengkap, apakah dana yang diberikan CIA dan daftar nama anggota PKI diserahkan kepada Soeharto sebagai presiden atau diolah dulu oleh Adam Malik. Hal ini patut dipertanyakan yang memberi bantuan adalah agen rahasia AS bukan dari pemerintah AS. Apakah CIA memang difungsikan di saat-saat darurat? Jika terjadi kekeliruan, maka pemerintah tidak dapat disalahkan.

Ketika terjadi pergolakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat, CIA juga berperan aktif. CIA inilah yang mendekati Maludin Simbolon agar mau meledakkan minyak Caltex di Riau, perusahaan minyak milik AS. Seandainya saja Simbolon bersedia, maka Presiden Soekarno sudah terguling di masa PRRI. Menurut saya rasa nasionalisme anggota PRRI sangat tinggi.

Semua pimpinan PRRI itu adalah TNI. Sebagaimana pernah saya tulis, ketika saya bertemu Ahmad Husein, pimpinan PRRI di Jakarta, ia mengatakan PRRI bukanlah pemberontak. Dibentuknya PRRI karena ingin menjauhkan Presiden Soekarno dari PKI.

Oleh karena itu, sangat jelas terbaca bahwa tulisan sejarawan Asvi Warman Adam tersirat suatu pelajaran bahwa Indonesia tidak mampu mempertahankan dirinya secara netral.

INFO LEBIH BARU LAGI

Saya menulis juga di Kompasiana, selain di Kompasiana  di atas, yaitu peringatan hari kepergian Adam Malik, tentang ia Agen CIA kembali terdengar. Itu tanggal  6 September 2018.

Saya memulai kalimat saya, tanggal 5 September 2018 baru saja berlalu. Itu adalah hari penting buat bangsa Indonesia, khususnya keluarga besar almarhum Adam Malik, karena pada tanggal itu, tepatnya pada 5 September 1984,  mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-3 , juga  mantan menteri luar negeri itu meninggal dunia. 
Adam Malik adalah putera asli Penatangsiantar, Sumatera Utara. Lahir pada 22 Juli 1917. Ia bernama lengkap Adam Malik Batubara, tetapi lebih populer dengan panggilan hanya Adam Mal
Pada tahun 2001, publik Indonesia dikejutkan dengan kabar ditariknya dokumen rahasia tentang kiprah pemerintahan AS pada saat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G 30S). Padahal, baru beberapa hari sebelumnya, dokumen itu dibuka menyusul dilantiknya Megawati Soekarnoputri, putri mantan Presiden Soekarno, menjadi presiden RI ke-5.

Menariknya, penarikan dokumen tersebut terjadi bukan karena protes. Sejak dibuka diam-diam, tak satu pun pihak yang menyatakan keberatan atas isi dokumen. Ini jelas suatu keanehan. Adakah yang janggal dalam peristiwa itu?

Meski sudah ditarik, tak urung beberapa copy dokumen tersebut telah beredar. Salah satunya bercerita soal Adam Malik, yang dalam buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Weiner, ditulis sebagai agen CIA.

Sudah tentu para pengamat politik dan aparatur pemerintah Indonesia membantahnya. Tahun itu juga saya bekerja di Majalah "Biografi Politik," sebagai redaktur senior. Di edisi 2009, saya nenulis khusus tentang Adam Malik. Ada beberapa orang yang saya hampiri di antara kedua anak Adam Malik, Otto Malik dan Antarini Malik. Keduanya membantah, bahwa "tidak mungkin ayah saya Agen CIA."
Otto Malik mengatakan kepada saya, ayahnya tidak mungkin sebagai Agen CIA. Memang ayah saya penggemar sejarah Rusia, karena ia pernah menjabat Duta Besar di sana. Ia pengagum Trotsky. Pencetus Revolusi Rusia 1917. Otto tidak heran, jika ayahnya memberi nama Trotsky dan nanti berubah menjadi Otto Malik.

Adik Otto ke dua pun sama. Diberi nama Subakat yang diambil dari nama orang kepercayaan Tan Malaka. Belakangan nama adiknya diubah menjadi Imron Malik. Otto menjelaskan bahwa ayahnya pengagum Soekarno dan Tan Malaka, pendiri Partai Murba.  Ia mendapatkan buku-buku Tan Malaka yang diselundupkan dari Singapura melalui kelompok pergerakan di Pematangsiantar.
Antarini Malik adalah putri bungsu Adam Malik. Pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dari Partai Golkar. Ia pun tidak percaya ayahnya Agen CIA. 

Memang semua negara waktu itu dekat dengan Amerika Serikat, termasuk Indonesia. Sebagai upaya agar tidak dipengaruhi Uni Soviet maupun Republik Rakyat China, untuk mengkomuniskan sebuah negara, maka Amerika Serikat mendekati negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sekali lagi dekat bukan berarti warga yang didekati seperti Adam Malik harus menjadi agen CIA.

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014