YOGYAKARTA DAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X
Tanggal 7 Oktober menjadi momen bersejarah bagi Yogyakarta. Di Indonesia, hari ini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta. Hari ini jatuh pada Selasa 7 Oktober 2025.
Mengutip dari laman HUT Kota Yogyakarta, sejarah berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755 (Kamis Kliwon, 12 Rabingulakir 1680 TJ). Kerajaan Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.
Pangeran Mangkubumi diakui menjadi raja Ngayogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alega Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah.
Mataram (Yogyakarta), Ponjong, Sukowati, Bagelen, Kedu, dan Bumigede ditambah beberapa daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, dan Grobogan merupakan daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Sultan Hamengku Buwono I.
Setelah perjanjian pembagian daerah selesai, Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta).
Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755 (Kamis Pon, 29 Jumadil Awal 1680 TJ). Peristiwa ini dikenal dengan nama Hadeging Nagari Ngayogyakarta.
Tempat yang dipilih sebagai pusat pemerintahan atau keraton ialah Hutan Pabringan yang terletak di antara sungai Winongo dan Sungai Code. Lokasi tersebut dipandang strategis dari segi pertahanan dan keamanan.
Kemudian, pada tanggal 9 Oktober 1755 babat alas untuk pembangunan keraton dimulai. Untuk sementara, Sultan Hamengku Buwono I menempati Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping. Dari sana Sultan mengawasi pembangunan keraton baru.
Pembangunan keraton baru berlangsung selama hampir setahun.
Tepat pada tanggal 7 Oktober 1756 (Kemis Pahing, 13 Sura 1682 TJ) Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarga dan pengikutnya boyongan dari Ambarketawang menuju keraton yang baru selesai dibangun tersebut.
Dalam penanggalan Tahun Jawa (TJ), peristiwa ini ditandai dengan sengkalan memet: Dwi Naga Rasa Tunggal dan Dwi Naga Rasa Wani.