SELAMAT HUT KE-80 KORPS MARINIR

SELAMAT HUT KE-80 KORPS MARINIR

Korps Marinir memperingati hari ulang tahun (HUT) pada tanggal 15 November 2025. Tahun ini merupakan HUT ke-80 Korps Marinir.

Korps Marinir merupakan unit pasukan TNI yang berkedudukan sebagai Komando Utama Operasi (Kotama Ops) TNI. Korps Marinir dipimpin seorang Komandan yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Panglima TNI.

Salah satu tugas Korps Marinir melakukan operasi pertahanan pantai untuk mempertahankan keamanan dan kedaulatan negara serta melindungi sumber daya alam yang ada di wilayah pesisir dan laut.
Saya berkenalan dengan seorang perwira berasal dari suku Aceh, Letnan Jenderal (Marinir) Safzen Noerdin, yang lahir di Krueng Sabee, Aceh Jaya, Aceh. Ia adalah mantan Komandan Korps Marinir dan kemudian jadi Duta Besar Indonesia untuk Irak. Saya diundang ke Irak untuk kedua kalinya dalam kehidupan saya, September 2014. Saya bersyukur ke Irak karena bisa melihat perbandingan antara tanah air saya, Indonesia dan Irak. Juga situasi Irak di periode yang berbeda.

Berarti, saya mengenal empat perwira dalam kehidupan saya. Tiganya adalah:

*PERTAMA, C.I SANTOSA PANGDAM XVII/CENDERAWASIH (1977-1978)* 
Nama lengkapnya Chalimi Imam Santosa atau akrab dipanggil C.I.Santoso. Ketika saya kuliah di FIHES (Fakultas Ilmu Hukum, Ekonomi dan Sosial/FIHES), Jurusan Hukum (sekarang Fakultas Hukum) Universitas Negeri Cenderawasih (UNCEN) di Abepura, Papua dari tahun 1975-1980. 

Tentang Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) atau dulu lebih dikenal dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM)?  Ya, sangat akrab di telinga kami para mahasiswa/i UNCEN. Bahkan sering bendera OPM itu selalu akan dikibarkan, tetapi selalu pula gagal. 

Saya waktu itu sering dimintai informasi oleh Pangdam C.I.Santosa tentang OPM,  karena saya tidak hanya sebagai mahasiswa biasa saja, tetapi di UNCEN menjadi Sekretaris I HMI Cabang Jayapura 1977-1978, Ketua Umum LHMI HMI Cabang Jayapura 1978-1979 dan 1979-1980. 


KEDUA, BRIGJEN (POL) ANTON TABAH
Jum'at, 18 November 2011, saya menerima pesan singkat dari Brigjen (Pol) Anton Tabah agar berkenan pergi bersamanya di acara bedah buku, besoknya, Sabtu. Kesepakatan terjalin. Tetapi saya baru tahu, Sabtunya, bahwa bedah buku yang dimaksud adalah tentang buku mantan Presiden RI ke-2 Soeharto.

Di dalam perjalanan, saya menerawang jauh tentang apa yang pernah diungkapkan Pak Anton kepada saya, mengenai Pak Harto, terutama saat-saat beliau diangkat sebagai Sekretaris mantan Presiden, jadi setelah Pak Harto lengser.

Kalau mau tahu, Pak Harto itu sederhana, ujar Pak Anton. Kalau tidak percaya pergilah ke rumahnya. Ketika saya membaca ratusan surat simpati, empati, haru, sedih dan doa-doa yang ditujukan padanya dari dalam dan luar negeri, saya malah menjadi semakin empati. Anda tahu apa itu empati?, tanyanya kepada saya. Empati itu, jelas Pak Anton, kita bisa merasakan apa yang dialami orang lain. Aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Pertama kali saya mengenal Pak Harto, dimulai pada waktu saya mendapat telepon dan Menhankam/Panglima ABRI melalui pimpinan Polri di Jakarta tanggal 19 November 1998 pukul 09.00 pagi agar mau menerima tawaran tugas baru sebagai Sekretaris mantan Presiden RI, H.M.Soeharto. Sesuai UU Protokol Negara, mantan Presiden RI harus punya Sekretaris.

Saya kok merasa berat ya, ujarnya mengenang peristiwa saat itu. Saya minta waktu berpikir.Beberapa alasan kenapa perasaan begitu berat. Pertama, saya baru saja dipromosikan pada jabatan cukup strategis sebagai Kadispen Polda Jawa Tengah.Kedua, berkali-kali saya ditawari tugas di Jakarta, saya selalu minta tetap di Jateng mengingat tugas di Jakarta butuh finansial cukup mahal.Ketiga, waktu itu saya sedang menyelesaikan Studi Program S2 bidang Manajemen di Semarang. Keempat, saat itu Pak Harto sedang dihujat oleh berbagai pihak, bahkan ada di antara Perwira Senior menyarankan agar menolak tawaran itu, karena tak mustahil akan terperangkap pada sebuah "killing ground." Baru dua hari dalam kebimbangan itu, 21 November 1998, Surat Keputusan telah saya terima dan memerintahkan saya harus segera menghadap ke Jakarta.

"Keyakinan saya, Pak Harto tidak selalu di pihak yang salah dan tidak seburuk opini yang berkembang. Apalagi di kawasan ASEAN, Jepang, Korea dan Cina pengaruh Pak Harto masih sangat besar dan disegani secara global. Tetapi kenapa kehormatan itu malah dirusak bangsa sendiri?," tanyanya.

Setelah mendengar itu, saya berucap dalam hati. Ya, saya adalah pendengar yang baik. Informasi Pak Anton yang juga ada di buku yang dibedah "Pak Harto The Untold Stories" memperkaya khasanah pemikiran saya. Apalagi ketika mata saya menatap halaman 367 buku itu yang diungkapkan Pak Harto kepada Sukardi Rinakit:

"... dalam hidup ini perbuatan baik dan buruk akan mengikuti sampai ajal jika niatnya baik, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan. Mungkin ada akibat kurang baik, tetapi kalau mayoritas rakyat, mendapat manfaatnya maka tindakan itu tidak perlu diragukan."

KETIGA, LETJEN TNI (PURN) RAIS ABIN
Berkunjung ke rumah Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin, Selasa, 4 Agustus 2020, jelang usianya 94 tahun, tepat pada hari kelahirannya tahun itu, hari Sabtu, tanggal 15 Agustus 2020, mengingatkan kenangan saya bersama beliau, pertama kali melangkahkan kaki ke Gedung Legiun Veteran RI (LVRI), pada tahun 2019 untuk membicarakan masalah para Veteran di tanah air kita ini. Juga di bulan Agustus itu, tepatnya tanggal 10 Agustus 2020 merupakan Hari Veteran Nasional, oleh karena itu sangatlah tepat jika Letjen Rais Abin mengundang saya berbincang-bincang ke kediamannya.

Di tengah merebaknya Covid-19 di dunia waktu itu, pembicaraan kami pun dengan menggunakan masker.
Rais Abin yang lahir pada 15 Agustus 1926 di Koto Gadang, Agam, pada masa Hindia Belanda itu menulai pembicaraannya juga dari Minangkabau.

” Jika diartikan situasi yang terjadi sekarang ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, saya mengibaratkan kita berada seperti anak di dalam cerita Malin Kundang,” ujar Rais Abin.

Malin Kundang adalah cerita yang berasal dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Cerita rakyat yang mirip juga dapat ditemukan di negara-negara lain di Asia Tenggara.

“Itulah sebabnya, saya berpesan kepada generasi penerus di usia saya 94 tahun ini, kepada yang muda-muda, agar janganlah bertindak seperti Malin Kundang,” jelas Rais Abin.

Tokoh militer yang pernah menjadi Ketua Umum LVRI dan Panglima Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1976-1979 itu agak kecewa melihat perkembangan bangsa dan negara setelah reformasi. 

“Undang-Undang Dasar 1945 kita diutak atik, bahkan ditambah-tambah, ” kembali Rais Abin menegaskan.

Memang ide untuk mengamandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, buat LVRI sudah lama dikumandangkan. Rais Abin sebagai anggota LVRI menganggap perlu meminta pengkajian ulang terhadap amendemen UUD 1945. Sehingga nantinya bisa mengubah jalan kehidupan berbangsa menuju lebih baik.

“Selain itu juga bertujuan untuk membuat generasi bangsa ke depan memahami isi UUD,” ujarnya.

LVRI telah mengeluarkan Pokok-Pokok Pikiran Kaji Ulang Perubahan UUD 1945, pada tahun 2013.

Mereka ini hadir tanpa membusungkan dada. Bahkan dengan rendah hati, usia yang uzur (seperti Letjen/Purn Rais Abin/Angkatan Darat).

Sejauh ini diakui bahwa Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan perubahannya telah mengubah secara radikal bangunan sistem pemerintahan Indonesia. Ada beberapa lembaga negara yang kehilangan fungsi dan kewenangannya seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Majelis itu tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara, karena lembaga itu menjadi bikameral yang terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Rais Abin, meski usianya jelang 94 tahun, tetapi masih tetap berpikir tentang masa depan kehidupan generasi penerus agar lebih baik. 

Ia menikah dengan seorang perempuan bernama Dewi Asiah Hidayat, mantan wartawati harian “Pedoman,” dan putri dari Letjen (Purn) TNI Letjen (Purn) TNI Hidajat Martaatmadja. Pernikahan mereka telah dianugerahi tiga orang anak, tujuh orang cucu serta beberapa orang cicit.

Sepanjang tahun 1976 – 1979, Rais Abin dipercaya sebagai Panglima United Nations Emergency Forces (UNEF) II, suatu pasukan perdamaian dari PBB yang terdiri lebih dari 4000 tentara yang berasal dari berbagai negara di dunia, yaitu Australia, Austria, Kanada, Finlandia, Ghana, Indonesia, Irlandia, Nepal, Panama, Peru, Polandia, Senegal, dan Swedia.

UNEF II bertugas menjaga perdamaian antara Mesir dan Israel  setelah perang Yom Kippur (Oktober 1973). Berkat lobi dan diplomasinya, Rais Abin, berhasil mempertemukan Presiden Mesir, Anwar Sadat, dengan PM Israel, Menachem Begin, yang dilanjutkan dengan perundingan perjanjian damai di Camp David, dan diakhiri dengan penandatanganan perjanjian damai antara Mesir dan Israel yang dilakukan di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, yang disaksikan Presiden AS, Jimmy Carter, pada tahun 1979.
Sampai saat ini Rais Abin merupakan satu-satunya jenderal Indonesia yang pernah memimpin pasukan internasional (PBB) dalam misi perdamaian yang beranggotakan ribuan tentara dari banyak negara di dunia.
Sedangkan di dalam negeri berbagai tugas negara juga pernah diembannya, antara lain Sekjen KTT Non Blok periode 1991-1992, Duta Besar Malaysia dan Singapura, serta jabatan lainnya. Setelah pensiun ia aktif LVRI.

Atas jasa-jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana dan Bintang Mahaputra Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia serta Medali Perdamaian dari PBB.

SAFZEN  NOERDIN MENGUNDANG SAYA KE IRAK

Ketika saya di Irak,  saya berkunjung ke Masjid Al-Kufah, Irak di bulan September 2014. Masjid Kufah merupakan masjid besar bagi umat Islam.

Menuru beberapa riwayat, orang pertama yang mendirikan Masjid Kufah adalah Nabi Adam as yang kemudian direkonstruksi oleh Nabi Nuh as setelah badai. Masjid Kufah ini  terletak di Kota Kufah, sekitar 17 km selatan Baghdad, Iraq.
Masjid ini memiliki banyak keunggulan, bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah satu wasilah masjid ini adalah barang siapa yang memasukinya maka dosanya akan terampuni.
Maqam berikutnya adalah Maqam Nabi Adam A.S. Tiang ketujuh Masjid Kufah dikenal dengan Maqam Nabi Adam. Di sana dulu Nabi Adam as bertaubat dan Allah Swt menerima taubatnya.

“Kemudian ada Maqam Malaikat Jibril as. Tiang kelima Masjid Kufah ditetapkan sebagai Maqam Jibril. Pada Malam Mi'raj, saat Nabi Muhammad Saw diberangkatkan oleh Allah dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsa, ketika melewati Kufah, Malaikat Jibril as berkata kepada Nabi Saw,

 “Ya Rasulallah, saat ini engkau ada di depan Masjid Kufah,” atas izin Allah Swt di sana Nabi Saw melakukan dua rakaat salat."

Berikutnya ada pula Maqam Sayyidina Ali Zainal Abidin as-Sajjad as. Tiang ketiga Masjid Kufah adalah tempat shalat Imam Sajjad. Dalam riwayat Abu Hamzah al-Tsumali berkata, “Aku melihat Ali bin Husein as memasuki Masjid Kufah dan melakukan shalat dua rakaat lalu berdoa. Saat akan kembali ke Madinah beliau ditanya seseorang, ‘Untuk apa engkau kemari? Imam Ali bin Husein menjawab, ‘Aku meziarahi ayahku dan shalat di masjid ini.'"

Tempat istimewa lain di Masjid Kufah adalah lokasi terdamparnya kapal Nabi Nuh as. Menurut sejumlah riwayat, bahtera Nabi Nuh as terdampar di Masjid Kufah setelah sekian lama melewati terjangan badai.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Sayyidina Ali berkata kepada masyarakat Kufah bahwa Allah telah memberikan keistimewaan yang tidak diberikan kepada siapapun, dimana Allah menganugerahkan kedudukan khusus untuk tempat Masjid Kufah.

Masjid ini adalah rumah Adam as, tempat Nuh, tempat tinggal Idris, tempat ibadah Nabi Ibrahim dan Nabi Khidr, dan salah satu dari empat masjid yang dipilih oleh Allah untuk umat-Nya.

“MasyaAllah. Ada penanda Nabi Muhammad SAW, Nabi Adam AS dan Malaikat Jibril AS pernah singgah di sini dan tertulis agar salat sunnah dua rakaat sementara empat rakaat di tempat singgah Nabi Adam A.S. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk datang dan mendirikan salat di sana. Aamiin YRA." 

PADANG KARBALA
Saya ke Masjid Al-Kufah dan Padang Karbala sebagai wartawan Indonesia didisposisikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Irak, pada waktu itu Letjen TNI (Purn/Marinir) Safzen Noerdin.

Mungkin pengurus Padang Karbala itu pun sudah tahu bahwa mayoritas penduduk Muslim Indonesia adalah Muslim Sunni.
Saya bersama staf Kedubes RI di Baghdad pergi ke Karbala, pada hari Minggu, 21 September 2014. Di Karbala yang dulunya padang pasir yang luas, sekarang berbentuk bangunan. Di sinilah anaknya sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu putera Ali r.a, Hussein secara mengenaskan dibunuh dan kepalanya lepas dari tubuh ketika berhadapan dengan jumlah musuh yang tidak seimbang di Padang Karbala tersebut.

Suara-suara isakan tangis penziarah yang terdiri dari berbagai kelompok yang datang dari dalam negeri Irak dan luar Irak seperti India dan lain negara terlihat berteriak-teriak seraya menangis: "Oh Hussein...oh Hussein." Saya juga larut dalam suasana tersebut. Mata saya berkaca-kaca.


Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014