PERINGATAN KEMBALINYA IMAM KHOMEINI KE IRAN, 1 FEBRUARI


PERINGATAN KEMBALINYA IMAM KHOMEINI KE IRAN, 1 FEBRUARI

Foto-foto dari PersToday dan Tehran Times

Ayatollah Khomeini kembali ke Iran pada 1 Februari 1979 setelah 14 tahun diasingkan, disambut jutaan pendukung di Teheran. Kepulangan dari Paris ini me micu runtuhnya rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi dalam 10 hari, mengubah Iran menjadi Republik Islam, dan menetapkan Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi. 

Berikut adalah detail penting terkait kembalinya Khomeini ke Iran:

Waktu dan Tempat: Khomeini mendarat di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran, pada pagi hari tanggal 1 Februari 1979, menggunakan pesawat Air France.

Konteks Pengasingan: Setelah 14 tahun diasingkan (pertama ke Turki, lalu Irak, dan terakhir Prancis), Khomeini memimpin oposisi terhadap Shah dari luar negeri.

Sambutan Rakyat: Jutaan orang memadati jalanan Teheran untuk menyambut kembalinya Khomeini, menciptakan suasana pesta rakyat sekaligus ketegangan politik.

Dampak Langsung: Kepulangan ini menyebabkan jatuhnya pemerintahan sementara Shapour Bakhtiar dan runtuhnya monarki Iran pada 11 Februari 1979.

Perubahan Rezim: Setelah kembali, Khomeini mendirikan pemerintahan sementara dan akhirnya menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Republik Islam Iran.

Dekade Fajr: Peristiwa kembalinya Khomeini hingga 10 hari setelahnya (kemenangan revolusi) dirayakan di Iran sebagai "Dekade Fajr". 

MENGAPA SADDAM HUSSEIN MEMUSUHI KHOMEINI ?


Ayatollah Ruhollah Khomeini diusir dari Irak pada 6 Oktober 1978 setelah menghabiskan waktu hampir 13 tahun dalam pengasingan di kota suci Najaf. Pengusiran ini merupakan hasil tekanan dari Shah Iran (Mohammad Reza Pahlavi) kepada pemerintah Irak yang saat itu dipimpin oleh Saddam Hussein. 

Berikut adalah rincian mengenai peristiwa tersebut:

Alasan Pengusiran: Pada pertengahan 1970-an, pengaruh Khomeini di Iran meningkat drastis seiring meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap rezim Shah. Shah meminta Irak untuk membatasi aktivitas Khomeini yang semakin gencar menyebarkan khotbah dan seruan untuk menggulingkan monarki Iran dari Najaf.

Tekanan Saddam Hussein: Meskipun Irak dan Iran sempat memperbaiki hubungan melalui Perjanjian Algiers 1975, pemerintah Ba'ath Irak di bawah Saddam Hussein akhirnya menekan Khomeini untuk menghentikan aktivitas politiknya atau meninggalkan Irak. Khomeini menolak untuk diam, sehingga ia dipaksa keluar.

Perjalanan ke Paris: Setelah diusir dari Irak dan dilarang masuk ke Kuwait (karena permintaan Iran), Khomeini memutuskan untuk pergi ke Prancis. Ia menetap di Neauphle-le-Château, pinggiran kota Paris, pada 6 Oktober 1978.

Dampak Pengusiran: Pengusiran ke Paris justru menjadi bumerang bagi Shah Iran. Di Prancis, Khomeini memiliki akses media global yang lebih bebas untuk mengoordinasikan demonstrasi massa di Iran, yang akhirnya menyebabkan kejatuhan Shah pada Januari 1979. 

Sebelum menetap di Irak pada tahun 1965, Khomeini sempat diasingkan ke Turki pada tahun 1964. 

Ayatollah Ali Khamenei, setelah membacakan Surah Al-Fatihah dan melaksanakan salat di makam Imam Khomeini (ra), memanjatkan doa agar derajat Imam Besar dan pejuang tersebut serta para syuhada Revolusi ditinggikan oleh Allah Swt. (MF)


Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014