VIETNAM, NEGARA YANG MAMPU KALAHKAN AS
VIETNAM, NEGARA YANG MAMPU KALAHKAN AS
Tulisan saya di Kompasiana, 24 Agustus 2017
Kunjungan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong ke Indonesia disambut hangat oleh Presiden Joko Widodo dengan hamparan permadani merah.
Presiden Joko Widodo menjelaskan sedikit bahwa setiap tamu kenegaraan dihormati seperti itu. Hal ini berkaitan karena yang datang adalah Sekjen Partai Komunis Vietnam, bukan seorang presiden atau perdana menteri dari sebuah negara. Tetapi di negara itu, Sekjen Partai Komunis adalah jabatan tertinggi di negara tersebut.
Memang kata partai komunis, kita akui masih kurang nyaman didengar di telinga kita. Bayangan yang langsung ada di depan kita, adalah bayang-bayang kekejaman Partai Komunis Indonesia di negara kita. Sungguh kejam dan tidak memperlakukan secara manusiawi partai tersebut.
Tidak demikian yang terjadi sekarang ini. Sama halnya dengan yang dilakukan Republik Rakyat Tiongkok. Falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara tetap mengacu pada ideologi komunis, tetapi dalam mengembangkan perekonomian bisa saja sedikit bebas yang tetap diiklankan oleh negara.
Pada saat yang sama, di toko-toko buku terlihat dengan rapinya susunan buku berjudul "Kronologi Perang Vietnam," yang diterbitkan Penerbit PT Elex Media Komputindo tahun 2016. Buku ini terjemahan dari buku aslinya berjudul "World History Timeline the Timeline of the Vietnam War the Ultimate Guide to This Divisionve Conflict in American History," oleh Kevin Dougherty dan Jason Stewart tahun 2008.
cbsnews.com
Buku ini menarik, karena di samping dekorasi penuturannya yang lengkap, juga dilengkapi foto-foto menarik ketika perang di Vietnam berlansung dan detik-detik kekalahan Amerika Serikat di wilayah itu.
Menurut saya, sebenarnya Amerika Serikat bisa saja kalah oleh Jepang dalam Perang Dunia II, seandainya negara adidaya itu tidak menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pertanyaan yang sama, kenapa di Vietnam tidak melakukan hal yang sama?
Di halaman 150 buku ini dijelaskan dengan jelas, bahwa Presiden AS Johnson dan Menteri Pertahanan McNamara mulai takut bahwa pengeboman terhadap Vietnam Utara akan membawa perang yang lebih besar.
Menurut saya, faktor lain dari kekalahan AS di Vietnam, karena taktik perang gerilya yang dilakukannya dan mirip dengan yang dilakukan Indonesia mengusir Belanda. Di samping tekanan dari dalam negeri AS (hal.188) yang datang dari warga AS, terutama kaum mudanya.
Jika kita melihat film Perang Vietnam, hati kita sangat miris. Kedutaan Besar AS dijadikan tempat landasan helikopter AS untuk membawa siapa saja yang ingin minta diselamatkan dari medan pertempuran.
Hari itu, tanggal 30 April 1975, Vietnam mengagumi dirinya sebagai satu-satunya bangsa Asia yang berhasil mengalahkan AS. Peristiwa ini merupakan awal kebangkitan rakyat Vietnam dan tidak akan pernah terlupakan.