AGAK ANEH DALAM PIKIRAN SAYA, RENCANA PENERBITAN BUKU KUMPULAN TULISAN MANTAN WARTAWAN "SRIWIJAYA POST," KOK GAGAL YA ?

AGAK ANEH DALAM PIKIRAN SAYA, RENCANA PENERBITAN BUKU KUMPULAN TULISAN MANTAN WARTAWAN "SRIWIJAYA POST," KOK GAGAL YA ?

Gagal? Sepertinya kata itu kurang tepat buat seorang wartawan. Tetapi itulah kenyataan yang ada di lapangan. Ketika naskah itu sudah terkumpul, saya tahu, karena saya juga menulis untuk buku tersebut. Ketika saya dengar naskah sudah sampai di penerbitan, saya juga tahu. Tetapi kenapa hingga hari ini, buku itu tidak juga sampai di tangan saya? Entahlah

Buku ini berupa kumpulan tulisan. Sudah menyangkut kepentingan para wartawan. Ya, memang ada yang berpendapar, biarkan saja, ada pula yang masih menginginkan tulisannya terbit. Berkumpul bersama tulisan teman-teman lainnya. Kita tunggu saja.

Inilah tulisan saya:

Kenangan ketika di Harian Sriwijaya Post, Palembang

Oleh Dasman Djamaluddin,S.H.,M.Hum

Sebuah kenangan tanggal 3 Oktober 2019, masih saya ingat. Saya melihat halaman Harina Asiana di facebook dibanjiri ucapan selamat hari jadi ke-32 harian "Sriwijaya Post," yang terbit di Palembang, Sumatera Selatan. Meski hari jadi koran yang terbit di Palembang itu akan diperingati waktu itu tanggal 12 Oktober 2019, tetapi halaman Harina Asiana sudah dipenuhi ucapan selamat, termasuk saya sendiri.

Harina Asiana ketika saya ditempatkan atas jasa wartawan senior harian "Kompas," Valens Goa Doy di harian "Sriwijaya Post," di Palembang, Harina Asiana sudah menduduki posisi penting dalam manajemen harian "Sriwijaya Post." Saya di surat kabar yang terbit di kota Palembang dan sekitarnya itu setelah tidak lagi membantu Azkarmin Zaini di harian "Pelita," manajemen baru.

Saya memakai kalimat "berkat jasa," karena sebelumnya saya pun sudah bergabung di Kelompok Penerbitan Kompas di Jakarta setelah majalah "Topik," (kelompok Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah) tidak terbit lagi. Saya bergabung di Kelompok Kompas (dulu namanya Pers Daerah) pada tanggal 15 Maret 1989 hingga 17 Juni 1990. Singkat sekali, karena saya kemudian bergabung dengan mantan wartawan "Kompas," Sudirman Tebba, Purnama Kusumaningrat dan seorang lagi Zaili Asril di bawah pimpinan mantan Sekretaris Redaksi harian "Kompas," Azkarmin Zaini ke harian "Pelita" manajemen baru.

Harian "Pelita," gagal berkembang dan Azkarmin Zaini kemudian menjadi  Direktur News, Sports & Corporate Communications televisi ANTV dan salah satu wartawan senior Indonesia. Sebelumnya dia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi ANTV sejak jaringan televisi itu berdiri tahun 1993 - 2005 dan pada tahun 2007 - 2010.

Waktu saya ingin pindah ke harian "Pelita " manajemen baru wartawan di Grup "Kompas," Raymond Toruan menemui saya dan disinilah saya kenal baik dengan wartawan senior Grup Kompas, "The Jakarta Post," yang juga ikut mengurusi Pers Daerah "Kompas" waktu itu.

Akan halnya wartawan senior "Kompas," Valens Goa Doy," dari beliaulah saya belajar kebaikan sebuah hati. Mana mungkin bila seseorang sudah menyatakan mengundurkan diri, kemudian kembali ingin bergabung, kembali diterima. Itulah dia Valens Goa Doy.

Ketika terdengar wartawan senior Valens Goa Doy itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.30 Wita, Selasa 3 Mei 2005, saya berdoa semoga wartawan baik itu sudah hidup damai di alam sana.

Hubungan saya meski tidak lagi terjalin melalui dunia jurnalistik dengan Grup Kompas, tetapi hubungan itu terjalin melalui penulisan buku. Terakhir saya menerbitkan buku sebagai editor buku: "Catatan BM Diah," yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, tahun 2018. Meski tidak terlihat peranan Penerbit Kompas, sesungguhnya kedua penerbitan ini bekerjasama.

Juga buku saya "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supesemar" diterbitkan Grasindo dua kali, yaitu tahun 1998 dan diterbitkan lagi tahun 2008. Grasindo adalah PT. Gramedia Widiasarana Indonesia beralamat di Gedung Kompas Gramedia.

Menariknya yaitu ketika menulis buku: "Rais Abin, Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah 1976-1979" (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012), waktu itu Pemimpin Umum Harian Kompas Jacob Oetama bersedia menulis "Sekapur Sirih," dalam buku tersebut.

Lebih menarik lagi pada hari Kamis, 26 Juli 2012, saya diajak Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian "Kompas" Dr (HC) Jakob Oetama. Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini bersenda gurau di lantai VI Harian "Kompas." Usia Jakob Oetama, tidak begitu jauh terpaut dengan Rais Abin karena beliau lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931.

Jakob Oetama sangat konsisten dengan tugasnya sebagai wartawan. Waktu itu ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Seorang rekan pernah membisiki saya, apakah benar atau tidak informasi itu bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko? Memang benar tawaran tersebut, tetapi Jakob Oetama menolak.

Pada waktu pembicaraan ini, Jakob Oetama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.



Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014