DEWI SOEKARNO DALAM BUKU: "BUTIR-BUTIR PADI B.M.DIAH"

DEWI SOEKARNO DALAM BUKU: "BUTIR-BUTIR PADI B.M.DIAH"

Tentang  Dewi Soekarno sekarang berusia 86 tahun, lahir 6 Februari 1940, terdapat di halaman 88 dan 89 buku:" _Butir-Butir Padi B.M.Diah_ ." Baru-baru ini setelah melepas WNInya, kita  tidak tahu, apakah partainya untuk perlindungan hewan di Jepang, menang?

Yang jelas, Dewi bukan istri ketiganya Bung Karno, sebagaimana tertulis, tetapi istri keenam.

Di halaman 88 dan 89 buku: 
 _" Butir-Butir Padi B.M. Diah: Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" sebagaimana diungkakan kepada Dasman Djamaluddin _ , penjelasan mengenai hal ini:

Halaman 88:

Suatu waktu yang na'as, saya (B.M.Diah) dipanggil pagi hari ke istana oleh Bung Karno. Saya tidak duduk minum kopi, tetapi diterima di beranda dalam Istana Merdeka. Setelah itu, Presiden kita keluar dengan pakaian seragamnya yang lengkap. Ia mengeluh dan mengatakan kepada saya, mengapa dibiarkan istrinya berdansa sampai pagi di rumah saya di Jalan Diponegoro 61. Saya jawab secara diplomatis, bahwa Dewi adalah istri presiden saya. Bagaimana saya dapat mengusir, atau "mengajak" ia pulang. "Kan saya seakan-akan pada Presiden saya." Bung Karno berdiam diri. Ia seterusnya berkata, bahwa tidak pantas ia tinggal sampai pagi, bertamu ke rumah orang. Pagi itu tampak Bung Karno tidak begitu gembira dengan tindakan istrinya.

Saya (B.M.Diah) perlu menerangkan, mengapa Dewi Soekarno sampai ke rumah saya. Telah dikatakan oleh rekan-rekan saya duta besar atau menteri, jika saya berada sebentar mengunjungi Jakarta karena sesuatu soal,  mereka meminta agar saya mengadakan pertemuan bersuka-ria di kediaman saya. Biasanya saya penuhi permintaan mereka. Juga hari itu, pada tahun 1964, saya pulang untuk konsultasi dari Bangkok, ketika saya duta besar di sana. Saya berkunjung ke rumah Joop Ave dan menceritakan pada sahabat saya ini, bahwa saya akan adakan pertemuan pada suatu malam.

Halaman 89 :

Ia rupanya meneruskan ceritera ini  pada Dewi Soekarno, tanpa saya ketahui. Pada hari itu juga orang-orang di rumah saya di jalan Diponegoro mengatakan, mereka mendapat telpon dari Ibu Dewi Soekarno, dan menanyakan pakaian apa dipakainya pada pertemuan itu. 

Tentu saja saya tidak menelpon kembali. Bukanlah maksud saya mengadakan pesta-ria yang besar dengan kawan-kawan saya, antara lain Dr.Soebandrio dan Chairul Saleh, kedua-duanya menteri dalam kabinet Bung Karno dengan mengundang juga Dewi. Memang pada malam itu Dewi hadir. Juga Chairul dan Soebandrio, masing-masing dengan partner mereka. Semua bersenang-senang sampai pagi hari, kecuali saya yang sudah menarik diri tengah malam.

Akan tetapi, sebelum tengah malam, kami, antaranya Chaerul Saleh telah beritahukan pada Dewi supaya ia kembali ke kediamannya karena waktu telah jauh malam. Sampai demikian saja keberanian kami. Lebih dari itu kami tidak sanggup. Ia seorang istri presiden kami. Oleh karena itu, pagi hari saya dipanggil untuk menanyakan mengapa saya membenarkan Dewi berada sampai subuh di rumah di rumah di Diponegoro. Kabarnya ada seorang istri menteri yang memberitahukan kedatangan Dewi ke rumah saya. Istri itu sendiri mengetahui bahwa suaminya juga ada di tempat itu sedang ia tidak ikut...

Pada malam harinya, sekali lagi saya harus ke Istana menemui Bung Karno. Sekali lagi ia mengeluh akan kelakuan istrinya, sambil menyatakan  jerit hatinya demikian: " Saya sudah kirim dia ke Mekkah dan sudah menjadi haji, mengapa dia masih berbuat demikian ?. "Saya (B.M.Diah) tidak menjawab.Juga tidak menambah apa-apa. Jawabnya tentulah ada dalam kerongkongan saya. Semua tidak terucapkan, karena saya mencintai Bung Karno dengan segala percobaan pada dirinya sendiri. Semua adalah perbuatannya sendiri pula. Bung Karno secara fisik adalah orang yang kuat, gagah, berani, tetapi ia rupanya memiliki hati yang lembut menghadapi istri-istrinya. Itulah Bung Karno yang saya kenal benar.

Buku biografi yang saya tulis: " Butir-Butir Padi B.M. Diah: Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman " adalah buku biografi/memoar tokoh pers dan pejuang kemerdekaan, B.M. Diah, yang disusun berdasarkan wawancara sejarah lisan bersama *Dasman Djamaluddin.* Diterbitkan tahun 1992, buku ini memuat kisah penyelamatan teks asli proklamasi yang dibuang ke sampah oleh Sayuti Melik. 

Berikut adalah poin-poin penting sejarah buku tersebut:

Penyusun dan Penerbit:  Buku ini diterbitkan oleh "Pustaka _Merdeka_ " pada tahun 1992, diungkapkan kepada _Dasman Djamaluddin.

Isi dan Struktur: Berisi 553 halaman, buku ini terbagi menjadi 3 bagian: Bagian Pertama (Pelaku Sejarah, 11 bab), Bagian Kedua (Di Antara Sahabat, 16 bab), dan Bagian Ketiga (Aktivitas dalam Gambar).

Konteks Sejarah (Teks Proklamasi): Buku ini mengungkap bahwa naskah asli proklamasi yang ditulis tangan Soekarno sempat dibuang oleh Sayuti Melik ke tempat sampah, lalu diambil dan disimpan oleh B.M. Diah selama 46-47 tahun.

Sumber Sejarah Lisan: Penulisan buku ini menggunakan metode sejarah lisan, di mana Diah menceritakan pengalamannya sebagai wartawan yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi.

Penyerahan Naskah: Setelah buku ini terbit tahun 1992 oleh: " Pustaka Merdeka" dan kisah penyelamatan tersebut terungkap, B.M. Diah menyerahkan naskah asli proklamasi tersebut kepada Presiden Soeharto pada tahun 1992. 

Buku ini menjadi sumber primer krusial mengenai peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia.





Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014