Mengenang Hari Kelahiran Wartawan Kawakan Peter Apollonius Rohi yang Sudah Berlalu 82 Tahun

Mengenang Hari Kelahiran Wartawan Kawakan Peter Apollonius Rohi yang Sudah Berlalu 82 Tahun 
Hari ini, 14 November 2024. Di rak buku saya masih terlihat sebuah buku tulisan wartawan kawakan Peter Apollonius Rohi. Ya, hari ini adalah hari kelahiran beliau ke 82 tahun. 

Beliiau sudah meninggal dunia dan sebagai seorang memiliki hubungan pribadi dengan Peter Apollonius Rohi, saya ikut berduka.

Pertama kali saya mengenal beliau pada 21 September 2011. Waktu itu, saya diajak teman sesama wartawan, Dwi Karyani bertemu beliau. Ia memberikan buku tulisannya berjudul: “Riwu Ga, 14 Tahun Mengawal Bung Karno” tersebut.

“Kako Lami Angalai,” artinya sama dengan Quo Vadis dalam bahasa Latin. Secara harfiah berarti, mau ke mana? Buku setebal 137 halaman tersebut masih tersimpan hingga sekarang di rak buku saya.

Waktu saya bertemu tanggal 21 September 2011 itu, Peter A. Rohi  menulis catatan di halama awal buku yang akan diberikannya kepada saya.

“Selamat ulang tahun Pak. Usia 56 tahun jadikan sebagai tahun istimewa untuk Pak Dasman Djamaluddin.” Ya, tahun itu usia saya 56 tahun. Sekarang sudah menjelang 70 tahun. Saya lahir di Jambi, 22 September 1955.

https://g.co/kgs/Lj7KAZ

Berikutnya, di halaman 7 buku yang diberikan kepada saya terdapat “Kata Sambutan,” dari Megawati Soekanoputri.

Di dalam buku ini dikisahkan panjang lebar tentang Riwu Ga. Menurut Megawati, Riwu Ga begitu dekat dengan Bung Karno, karena dia satu-satunya yang berada di samping Bung Karno pada saat-saat yang paling berat dalam perjuangan.

“Lebih dari seorang pelayan, Riwu telah menjadi pengawal, sahabat dan saudara bagi Soekarno. Ibu Inggit dan kedua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika, sayang pada Riwu, karena ia telah menunjukkan tanggung jawab yang besar mengurus dan menjaga keluarga ini,” tulis Megawari Soekarnoputri.

Dijelaskan pula oleh Megawati di dalam “Kata Pengantar,” buku tersebut, bahwa Ajudan, Paswalpres, baru ada setelah kemerdekaan, sehingga praktis peranan Riwu menjadi sangat berarti pada masa perjuangan yang berat dari seorang yang kelak menjadi pemimpin bangsa. Riwu Ga telah mengawal Bung Karno melewati jembatan emas kemerdekaan, dan setelah itu, menyadari tidak lagi tepat bila tetap di sisi Bung Karno, keduanya sepakat untuk berpisah.

Buku yang ditulis Peter Apollonius Rohi, buat saya sangat menarik. Apalagi di akhir halaman buku ini dilampirkan pula transkrip sandiwara “Dokter Syaitan,” yang disutradarai Bung Karno.

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Perjalanan Hidup

MENGHADIRI PROMOSI DOKTOR ILMU SEJARAH RAISYE SOLEH HAGHIA

MENCATAT PERJALANAN KETUA UMUM PP MUSLIMAT NU YANG ADALAH JUGA GUBERNUR JAWA TIMUR KE MASJID AL-KUFAH, IRAK YANG PERNAH SAYA ALAMI TAHUN 2014