SAYA SANGAT MENGENAL PUTRANYA AHMAD SUBARDJO
SAYA SANGAT MENGENAL PUTRANYA AHMAD SUBARDJO
Namanya ditulis Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo (23 Maret 1896 – 15 Desember 1978), tetapi ditulis juga menggunakan ejaan Ahmad Subardjo. Ia adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, dan seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Juga Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Ahmad Subardjo memiliki gelar Meester in de Rechten, yang diperoleh di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.
Anak laki-laki almarhum Ahmad Subardjo, Rohadi Subardjo pernah menghadiahkan saya sebuah buku ayahnya sebagaimana terpampang di atas. Buku ini cukup tebal, 586 halaman.Diterbitkan PT.Gunung Agung tahun 1978.
Buku yang diberikan kepada saya itu berbentuk fotocopy. Menurut Rohadi Subardjo, buku ini akan dicetak ulang. Penulisannya dilakukan sendiri oleh almarhum karena beliau tidak begitu suka jika terjadi kesalahan-kesalahan dalam istilah. Sebagaimana diketahui, beliau adalah Menlu RI pertama, ia sangat fasih berbahasa asing. Ia juga memperoleh ijazah bahasa Latin dan Yunani (ujian negara) Utrecht, Holland. Buku ini penuh dengan nilai-nilai sejarah. Kisah-kisah perjalanannya ke berbagai negara sangat menarik. Untuk saya, perjalanannya ke Jordania dan Irak menjadi bahan perbandingan untuk saya yang pernah juga mengunjungi Rusia, Jordanian dan Irak pada bulan Desember 1992 dan ke Irak lagi pada September 2014.
Di samping itu, almarhum Ahmad Subardjo telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk Kementerian Luar Negeri RI. Ia adalah Menlu pertama RI. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan dua hari setelah itu, beliau diangkat menjadi Menlu RI, tepatnya dari 19 Agustus 1945 hingga 15 November 1945. Setelah itu diangkat kembali menjadi Menlu RI, juga di masa Presiden Soekarno yaitu dari 27 April 1951-3 April 1952. Jasanya mengkaderkan anak-anak muda menjadi diplomat terlihat dari niatnya mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan untuk Diplomat Kemlu.
Sangatlah lumrah apabila Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi waktu itu beserta stafnya melakukan Napak Tilas ke rumah almarhum Ahmad Subardjo pada 19 Agustus 2016 karena beliau pernah menjadi Menlu Pertama RI, juga rumahnya itu dijadikannya kantor Kemlu RI pertama. Dalam hal ini saya pernah berharap kepada Rohadi Subardjo agar rumahnya dijadikan museum sejarah. Jangan mengalami nasib yang sama dengan rumah Bung Tomo di Surabaya. Dibongkar dan dihancurkan. Sangat disayangkan karena di tempat itulah Bung Tomo menggalang semangat para pemuda melawan penjajah.
Almarhum Ahmad Subardjo pernah menjadi wartawan. Tahun 1917 sudah aktif sebagai anggota redaksi Wederopbouw (Pembangunan) Jakarta.Tahun 1922-1926 anggota redaksi Indonesia Merdeka dari Majalah Perhimpunan Indonesia di Nederland. Tahun 1927-1928 pembantu Majalah "Kebenaran dan Kemerdekaan." Atau dalam bahasa Belanda "Recht en Vrijheid). Juga di lain lain penerbitan hingga tahun 1939.
Di dalam bukunya ini, almarhum Ahmad Subardjo banyak menyinggung peranan almarhum B.M. Diah. Pak Diah merasa berterimakasih pula kepada alm. Ahmad Subardjo, karena melalui beliau Pak Diah bisa berkenalan dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Pengakuan alm. Diah ini diucapkannya di buku yang saya tulis (Butir-Butir Padi BM Diah) halaman 65 bahwa Diah mengenal Bung Karno dan Bung Hatta ketika datang menghadiri acara pernikahan B.M. Diah dengan Herawati Diah pada 18 Agustus 1942. "Kehadiran Bung Karno dan Bung Hatta ...karena diundang paman isteri saya, Mr.Subardjo,' ujar B.M. Diah. Di saat-saat almarhum B.M. Diah akan diajukan sebagai Pahlawan Nasional, maka anak laki-laki Alm. Ahmad Subardjo, Rohadi Subardjo bersedia membantu. Karena hubungan yang dekat, Rohadi Subardjo berpengalaman ketika mengajukan almarhum ayahnya sebagai Pahlawan Nasional.